MENGAPA SAYA TIDAK MERAYAKAN NATAL
July 26, 2021MENGAPA SAYA TIDAK MERAYAKAN NATAL
Pernah penasaran mengapa umat Advent Hari Ketujuh tidak merayakan Natal pada 25 Desember?
Mengapa Saya Tidak Merayakan Natal?
Setiap kali bulan Desember tiba, suasana di sekitar kita mendadak berubah menjadi sangat meriah. Lampu kelap-kelip dipasang di pusat perbelanjaan, pohon cemara dihiasi pita warna-warni, dan lagu-lagu khas akhir tahun mulai bergema di mana-mana. Namun, di tengah semarak musim liburan ini, saya sering mendapat pertanyaan yang sama dari teman-teman
: Kenapa kamu tidak ikut merayakan Natal?
- Eh, kamu kok santai banget? Nggak sibuk belanja buat Natalan?
- Pohon Natal kamu mana?
- Kenapa kamu nggak merayakan Natal seperti yang lain?
Sebagai seorang anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, pertanyaan-pertanyaan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saya setiap tahun.
Dulu, sewaktu masih lebih muda, saya kadang merasa bingung atau canggung untuk menjawabnya.
Tetapi seiring berjalannya waktu, setelah membaca Alkitab lebih dalam dan mempelajari sejarah gereja, saya menemukan alasan yang sangat solid.
Hari ini, saya ingin berbagi cerita secara santai dan jujur tentang "mengapa saya tidak merayakan Natal mengapa tanggal 25 Desember "bukan hari kelahiran Yesus, dan bagaimana sejarah kuno Dewa Tamus berpotongan dengan tradisi ini.
Disclaimer kecil sebelum kita mulai- tulisan ku ini tidak ditulis untuk menghakimi, mendebat, atau merendahkan kepercayaan siapa pun. Ini murni kesaksian pribadi dan pemahaman iman yang saya jalani.
1. Mitos Tanggal 25 Desember: Kapan Yesus Sebenarnya Lahir?
Alasan paling mendasar dan sederhana mengapa saya tidak mengkhususkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus adalah satu fakta sejarah dan alkitabiah yang sangat jelas: Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember.
Jika kita membuka Kitab Suci, dari Kejadian sampai Wahyu, kita tidak akan pernah menemukan satu ayat pun yang menyebutkan tanggal, bulan, atau bahkan musim pasti ketika Yesus lahir di Betlehem.
Para penulis Injil seperti Matius dan Lukas mencatat dengan sangat detail tentang peristiwa kelahirannya, tetapi mereka tidak pernah meninggalkan catatan tanggal kalender.
Mengapa? Karena bagi para rasul dan jemaat mula-mula, fokus utama imannya bukan pada tanggal kelahiran melainkan pada fakta bahwa Ia telah datang, mati di kayu salib untuk dosa kita, dan bangkit kembali.
Namun, jika kita melihat petunjuk geografis dan iklim di dalam Injil Lukas, kita bisa menyimpulkan bahwa bulan Desember sangat kecil kemungkinannya menjadi waktu kelahiran Yesus.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Lukas 2:8
Di wilayah Judea (Betlehem dan sekitarnya), bulan Desember berada di tengah-tengah musim dingin (winter).
Suhu di sana bisa sangat dingin, bahkan kadang turun hujan lebat atau salju. Pada musim seperti itu, para gembala tidak akan membiarkan domba-domba mereka berada di padang terbuka pada malam hari.
Domba-domba biasanya dimasukkan ke dalam kandang atau tempat perlindungan sejak bulan Oktober hingga musim semi tiba.
Selain itu, perintah sensus dari Kaisar Agustus yang membawa Yusuf dan Maria ke Betlehem (Lukas 2:1-5) tidak mungkin dilakukan pada puncak musim dingin. Seorang kaisar tidak akan memerintahkan rakyatnya menempuh perjalanan jauh yang berbahaya di tengah cuaca ekstrem hanya untuk mendaftarkan diri.
Banyak ahli Alkitab memperkirakan Yesus kemungkinan lahir pada musim gugur (sekitar bulan September atau Oktober). Namun kembali lagi, karena Alkitab tidak mencatatnya, Allah sengaja menyembunyikan tanggal tersebut agar kita tidak menyembah "hari" itu sendiri.
2. Menelusuri Sejarah: Asal-Usul Tanggal 25 Desember dan Dewa Tamus
Jika Alkitab tidak pernah mengajarkan tanggal 25 Desember, dari mana angka itu muncul?
Di sinilah kita perlu membuka lembaran sejarah kuno. Tanggal 25 Desember sebenarnya berakar dari perayaan pafan (penyembahan berhala) yang sudah ada jauh sebelum agama Kristen berkembang di Romawi.
Perayaan Dewa Matahari dan Tamus
Di Babel (Babilonia) kuno, ada kisah tentang Nimrod, istrinya Semiramis, dan putranya yang bernama Tamus (Tammuz).
Dalam mitologi kuno tersebut, setelah Nimrod meninggal, Semiramis menyebarkan ajaran bahwa Nimrod telah menjadi dewa matahari.
Ketika Semiramis melahirkan seorang anak laki-laki bernama Tamus, ia mengklaim bahwa Tamus adalah titisan atau reinkarnasi dari dewa matahari itu sendiri.
Penyembahan terhadap Dewa Tamus dan ibunya berkembang pesat dan menyebar ke berbagai bangsa, termasuk Mesir, Yunani, dan Romawi, meskipun dengan nama-nama dewa yang berbeda (seperti Osiris, Mithra, atau Bacchus). Penyembahan Dewa Tamus ini bahkan pernah dikecam keras oleh Tuhan dalam Alkitab:
Lalu dibawa-Nya aku ke pintu gerbang rumah TUHAN yang menghadap ke utara, lihat, di sana ada perempuan-perempuan yang duduk menangisi dewa Tamus, Yehezkiel 8:14
Di Kekaisaran Romawi, penyembahan dewa matahari ini diwujudkan dalam festival besar bernama Saturnalia (perayaan untuk Dewa Saturnus) yang berlangsung pada pertengahan Desember, dan puncaknya adalah perayaan Natalis Solis Invicti (Kelahiran Matahari yang Tak Terkalahkan) pada tanggal 25 Desember Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan titik balik musim dingin (winter solstice), di mana siang hari mulai menjadi lebih panjang disimbolkan sebagai "lahirnya kembali" sang matahari.
Kompromi Politik dan Agama
Pada abad ke-4 Masehi, ketika Kaisar Konstantinus menjadikan Kristen sebagai agama resmi di Kekaisaran Romawi, terjadi proses sinkretisme (penggabungan) antara tradisi pafan dan ajaran gereja.
Untuk mempermudah rakyatnya berpindah ke agama Kristen tanpa kehilangan festival favorit mereka, tanggal perayaan Solis Invicti pada 25 Desember diubah namanya menjadi perayaan kelahiran Yesus Kristus ("Sang Terang Dunia").
Tradisi-tradisi pagan seperti berpesta, makan kue natal,bertukar hadiah, dan menghiasi pohon tetap dipertahankan, tetapi diberi "label" baru.
Sebagai seorang pemeluk iman Advent, ketika saya memahami akar sejarah ini, saya merasa tidak nyaman untuk mengambil tradisi pafan kuno yang awalnya ditujukan untuk dewa-dewa berhala seperti Tamus dan Sol Invictus lalu mencapnya dengan nama Tuhan Yesus.
Sudut Pandang Umat Advent: Bukan Benci, Tapi Prinsip
Sebagai Umat Advent Hari Ketujuh (Seventh-day Adventist), bagaimana sebenarnya pandangan kita terhadap perayaan Natal secara keseluruhan?
Penting untuk ditegaskan: Kami tidak benci pada perayaan Natal, dan kami sangat mengasihi orang-orang yang merayakannya.
Kami sangat menghormati saudara-saudara sekandung dalam Kristus dari denominasi lain yang merayakan Natal dengan hati yang tulus untuk mengingat kebaikan Tuhan. Fokus kami bukanlah mencari musuh atau merasa diri paling suci, melainkan memegang teguh prinsip-prinsip Alkitab.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa kami tidak menjadikan Natal sebagai hari raya keagamaan resmi:
Tidak Ada Perintah dalam Alkitab
Di dalam Alkitab, Tuhan memberikan instruksi yang sangat jelas tentang apa yang harus kita peringati dan bagaimana cara menyembah-Nya.
- Yesus memerintahkan kita untuk mengingat kematian dan kebangkitan-Nya melalui perjamuan kudus (1 Korintus 11:23-26).
- Tuhan memberikan hari Sabat (hari ketujuh) sebagai hari perhentian dan peringatan akan penciptaan serta penebusan (Keluaran 20:8-11).
Namun, tidak ada satu ayat pun di mana Yesus atau para rasul memerintahkan kita untuk merayakan hari kelahiran-Nya. Jika hal itu memang krusial bagi keselamatan kita, pasti Tuhan sudah menuliskannya dengan sangat detail di dalam Kitab Suci.
Prinsip Kesucian Ibadah
Dalam Kitab Ulangan 12:30-32, Tuhan mengingatkan bangsa Israel agar tidak meniru cara bangsa-bangsa pafan menyembah dewa-dewa mereka untuk dipakai menyembah Tuhan:
Jangankah engkau menanyakan tentang dewa-dewa mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada dewa-dewa mereka? Aku pun mau berlaku demikian. Jangan engkau berlaku seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu.
Tuhan menginginkan ibadah yang murni. Mengambil hari libur pagan yang dulunya didedikasikan untuk Dewa Tamus atau dewa matahari, lalu mengubahnya menjadi perayaan untuk Kristus, dianggap melanggar prinsip kemurnian ibadah ini.
Apakah Berarti Kita Tidak Boleh Memikirkan Kelahiran Yesus?
Tentu saja boleh, bahkan sangat harus
Sering kali orang salah paham dan berpikir, Kalau nggak merayakan Natal, berarti kamu nggak percaya Yesus lahir dong?
Ini adalah anggapan yang keliru. Sebagai umat Advent, kami sangat percaya pada peristiwa penjelmaan (inkarnasi) Kristus. Kelahiran Yesus dari seorang perawan di Betlehem adalah salah satu mukjizat terbesar dan fondasi utama dari rencana keselamatan!
Bedanya adalah pada frekuensi dan fokusnya
- Setiap Hari adalah Peringatan Bagi saya, kita tidak perlu menunggu tanggal 25 Desember setahun sekali untuk bersyukur atas kedatangan Kristus. Kelahiran, hidup, kematian, dan janji kedatangan-Nya yang kedua kali adalah hal yang saya renungkan dan syukuri setiap hari
- Fokus pada Misi-Nya: Kelahiran Yesus di palungan yang hina hanyalah langkah awal. Yang paling indah adalah mengapa Ia lahir: yaitu untuk melayani, mati menggantikan kita, bangkit mengalahkan maut, dan sekarang melayani sebagai Imam Besar kita di surga.
Bagaimana Saya Menjalani Bulan Desember?
Mungkin kamu bertanya-tanya,erus, kalau akhir tahun kamu ngapain aja kalau nggak merayakan Natal?"
Jawabannya: Tetap menikmati masa liburan dan berbuat baik
Bulan Desember di Indonesia biasanya bertepatan dengan libur panjang sekolah dan akhir tahun kantor. Sebagai manusia biasa, saya tentu menikmati momen libur ini. Berikut adalah beberapa hal yang biasa saya dan keluarga lakukan di bulan Desember:
- Kumpul Keluarga: Karena semua orang sedang libur, ini adalah waktu yang sangat tepat untuk pulang kampung, makan bersama, dan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga besar.
- Berbagi kepada Sesama: Ellen G. White, salah satu pelopor gereja Advent, pernah menulis bahwa jika orang-orang mempergunakan momen akhir tahun untuk memberikan hadiah, alangkah baiknya jika kita menggunakan kesempatan itu untuk membantu orang miskin, mendukung pelayanan medis, atau memberi donasi bagi kemajuan pekabaran Injil.
- Refleksi Akhir Tahun: Saya memanfaatkan hari-hari terakhir di bulan Desember untuk merenungkan kebaikan Tuhan sepanjang tahun yang lalu, mengevaluasi pertumbuhan rohani saya, dan membuat rencana untuk tahun yang baru.
Kami tidak merayakannya sebagai hari suci keagamaan, tetapi kami tetap bisa menggunakan momen liburan ini untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami.
saja boleh! Bahkan sangat harus
Sering kali orang salah paham dan berpikir, "Kalau nggak merayakan Natal, berarti kamu nggak percaya Yesus lahir dong?
Ini adalah anggapan yang keliru. Sebagai umat Advent, kami sangat percaya pada peristiwa penjelmaan (inkarnasi) Kristus. Kelahiran Yesus dari seorang perawan di Betlehem adalah salah satu mukjizat terbesar dan fondasi utama dari rencana keselamatan!
Bedanya adalah pada frekuensi dan fokusnya
Setiap Hari adalah Peringatan Bagi saya, kita tidak perlu menunggu tanggal 25 Desember setahun sekali untuk bersyukur atas kedatangan Kristus. Kelahiran, hidup, kematian, dan janji kedatangan-Nya yang kedua kali adalah hal yang saya renungkan dan syukuri setiap hari
Fokus pada Misi-Nya: Kelahiran Yesus di palungan yang hina hanyalah langkah awal. Yang paling indah adalah mengapa Ia lahir: yaitu untuk melayani, mati menggantikan kita, bangkit mengalahkan maut, dan sekarang melayani sebagai Imam Besar kita di surga.
Kesimpulan- Menghargai Perbedaan dalam Kasih
Menjalani keyakinan yang berbeda dari mayoritas orang di sekitar kita memang tidak selalu mudah. Kadang ada tatapan heran, pertanyaan sinis, atau perasaan "terasingkan" saat semua orang sibuk bersenang-senang dalam satu tradisi yang sama.
Namun, iman adalah tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan ketaatan kita pada Firman-Nya. Bagi saya pribadi:
- Saya tidak merayakan Natal karena Alkitab tidak memerintahkannya.
- Saya tidak mengkhususkan 25 Desember karena Yesus tidak lahir di hari itu
- Saya menghindari tradisinya karena akar sejarahnya terikat pada penyembahan berhala seperti Dewa Tamus dan dewa matahari
Meski demikian, saya tetap menghormati teman-teman dan saudara-saudara saya yang memilih untuk merayakannya.
Kasih Kristus tidak diajarkan untuk memecah belah, melainkan untuk merangkul. Kita bisa berbeda pendapat dalam hal tradisi dan tanggal perayaan, tetapi kita tetap bisa saling mengasihi sebagai sesama ciptaan Tuhan.


0 Comments
Silahkan berkomentar yang sopan,jangan spam komentar